Pesawaran,cadas.id – Dalam suasana pesisir yang diterpa angin laut dan semangat kolaborasi, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memimpin penanaman ribuan bibit mangrove di Desa Gebang, Pesawaran. Aksi ini bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari langkah serius Pemprov Lampung untuk menyelamatkan garis pantai yang semakin tergerus abrasi.
“Kita tidak bisa menunggu lebih lama. Rehabilitasi pesisir adalah harga mati,” tegas Mirza, sapaan akrab gubernur, di tengah barisan relawan dan pelaku usaha tambak yang ikut serta dalam kegiatan tersebut.
Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Mirza menjelaskan bahwa ekosistem mangrove yang sehat mampu meredam gelombang laut hingga 90 persen sebelum menyentuh pantai. “Lebih dari itu, mangrove adalah paru-paru hijau yang menyerap karbon 3–5 kali lebih banyak dibanding hutan daratan,” ujarnya.
Langkah ini juga mendapat dukungan dari sektor swasta. PT Indokom Samudra Persada mendapat apresiasi atas kontribusinya menyediakan lahan dan mengintegrasikan konservasi mangrove dalam sistem tambak modern mereka. “Saya harap ini jadi model yang diikuti pelaku usaha lain. Bahkan ekspor udang ke Tiongkok kini mensyaratkan keberadaan mangrove di sekitar tambak,” tambah Mirza.
Di balik program ini, ada pula tangan dingin Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung. Kepala dinas, Liza Derni, menyebut kegiatan ini bagian dari program 100 hari kerja gubernur. “Kita ingin perubahan nyata, bukan seremonial. Kami telah menanam 2.000 bibit di tujuh kabupaten/kota, dan hari ini kami tambah 3.000 lagi di Pesawaran,” ungkapnya.
Tak hanya mengandalkan vegetasi, Lampung juga mulai menerapkan inovasi teknologi. Salah satunya adalah teknik Appostrap — pemecah gelombang alami yang diharapkan memperkuat garis pantai tanpa merusak ekosistem.
“Kami percaya solusi jangka panjang harus menggabungkan teknologi, partisipasi masyarakat, dan kebijakan yang berani,” tutur Liza. Ia juga menegaskan pentingnya kesadaran publik untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menjaga laut sebagai warisan bersama.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Lampung tak ingin kalah oleh abrasi — dan justru menjadikan ancaman itu sebagai momentum bangkitnya gerakan lingkungan pesisir yang lebih masif, terintegrasi, dan berkelanjutan.







Comment