“Iya, sudah kami tahan. Pelaku HS sebelumnya diperiksa sebagai saksi, tapi akhirnya mengakui semua perbuatannya,” kata Kasi Humas Polres Lamtim, Ipda Edwin, Rabu (9/7/2025).
Diketahui, HS bersama bendahara desa berinisial RD sedang asyik bermain kartu remi di rumah warga, yang diduga jadi markas judi dadakan. Di tengah permainan, korban AB disebut tersinggung oleh ucapan HS yang mempertanyakan uang taruhan.
“Ada duit enggak? Jangan nanti banyak alesan, mau gadai-gadaian lah,” celetuk HS yang memicu api.
Tak terima, AB pulang dengan hati panas. Beberapa jam kemudian, ia kembali ke lokasi dan cekcok pun pecah. Namun siapa sangka, adu mulut itu berakhir dengan sajam yang menyayat perut dan tangan korban.
Saksi mata menyebut, bendahara desa RD juga ikut memukul korban. “Darah korban ngalir kayak air keran bocor,” ujar seorang warga yang menyaksikan kejadian tragis itu.
Meski dalam kondisi berdarah-darah, AB masih mampu berjalan pulang dan meminta bantuan keluarganya. Ia sempat dirawat di Puskesmas sebelum dirujuk ke RS Airan Raya Lampung Selatan karena luka serius di perut dan tangan kirinya.
Kini, HS resmi mendekam di tahanan. Warga Batu Badak berharap aparat kepolisian juga segera menyeret RD ke meja hijau jika terbukti ikut melakukan kekerasan.
“Kami malu punya pemimpin macam begini. Desa bukan tempat judi, apalagi pembacokan,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang enggan disebut namanya.
Kasus ini pun menyita perhatian luas, menjadi pengingat keras bahwa kekuasaan tanpa akhlak bisa berubah menjadi kekerasan. Kades bukan raja, apalagi jagoan meja judi. Jika jabatan dijalankan dengan emosi, maka rakyatlah yang terluka. (**)





Comment