Salah satu anak korban, M. Toha, masih terpukul saat menceritakan detik-detik kejadiannya.
“Ibu teriak minta tolong. Pas saya lihat, bapak sudah berlumuran darah. Saya langsung bopong ke rumah sakit,” ujarnya dengan suara bergetar.
Namun, upaya penyelamatan itu tak membuahkan hasil. Misyadi meninggal dunia di RS Asyifa Medika akibat luka parah dan kehilangan banyak darah. Menurut Toha, pelaku menghantam ayahnya dengan cobek, membanting, hingga menginjak tubuh korban berulang kali.
Warga sekitar mengaku terkejut dan tak percaya. SH memang dikenal sebagai ODGJ, namun selama ini tidak pernah berbuat ulah.
“Kami nggak nyangka sama sekali. Dia memang sakit jiwa, tapi selama ini tenang. Mungkin lagi kumat,” ujar Teguh, Babinsa setempat.
Kini, Polsek Tumijajar telah mengamankan pelaku dan mendalami kondisi kejiwaannya. Penyelidikan lebih lanjut akan menentukan arah penanganan kasus, termasuk keterlibatan pihak medis.
Peristiwa ini sontak menggugah kekhawatiran warga. Mereka berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera memperkuat pendataan dan penanganan ODGJ, terutama yang tinggal bebas tanpa pengawasan medis.
“Kalau dibiarkan seperti ini, bisa saja kejadian serupa terulang. Korban berikutnya bisa siapa saja,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit bahwa di tengah masyarakat, masih ada bom waktu yang bisa meledak kapan saja jika tak segera ditangani dengan serius.(***)




Comment