“Kurban ini bukan seremonial tahunan. Ini bentuk nyata bahwa kami, PDIP, hadir di tengah rakyat — tak hanya saat kampanye, tapi juga saat daging kurban sangat dinanti oleh mereka yang jarang bisa menyentuhnya,” ujar Sudin penuh haru.
Yang membuat suasana semakin menggetarkan hati, seekor sapi kurban terbesar diberi nama “Bung Karno”. Sapi itu disumbangkan oleh seorang kader tua, pensiunan guru, yang menyisihkan tabungannya selama dua tahun hanya untuk ikut berkurban di hari besar ini.
Semua hewan kurban dinyatakan sehat dan layak konsumsi oleh tim Balai Karantina Lampung. Proses penyembelihan dilakukan secara syar’i dan penuh kekhidmatan.
Ratusan paket daging kemudian didistribusikan langsung ke warga sekitar kantor, kaum dhuafa, tukang becak, pemulung, hingga janda-janda lansia yang telah lama menjadi bagian dari masyarakat sekitar.
“Ini bukan hanya daging. Ini bukti bahwa politik bisa hadir dengan hati. Ini bentuk gotong royong sejati, bukan sekadar jargon,” ucap salah satu relawan yang matanya berkaca-kaca saat menyerahkan paket daging kepada seorang nenek tua di gang kecil tak jauh dari kantor partai.
Kegiatan kurban ini telah menjadi tradisi tahunan PDIP Lampung, namun tahun ini terasa berbeda. Bukan karena jumlah hewan yang lebih banyak, tapi karena semangat yang mengalir: semangat melayani, berbagi, dan merangkul tanpa syarat.
“Pancasila bukan hanya dihafal, tapi diamalkan. Dan kurban ini adalah salah satu wujudnya,” tutup Sudin dengan tangan menggenggam rapat, menatap langit, dan menyebut satu harapan: “Semoga tahun depan kami bisa berkurban lebih banyak lagi untuk rakyat.”(hp/ml)







Comment