Ia mengeluhkan rasa sakit menusuk di kaki kanannya. “Seperti digigit sesuatu,” ucapnya, sebelum tubuhnya melemah, mulutnya berbusa, dan kesadarannya perlahan menghilang. Tak lama kemudian, ia ambruk di tengah rerumputan, tak bergerak.
Kapolsek Cukuh Balak, Ipda Wahyu Fajar Dinata, S., STr.K., mewakili Kapolres Tanggamus AKBP Rahmad Sujatmiko, S.I.K., M.H., membenarkan peristiwa tragis ini. “Korban ditemukan dalam kondisi kritis dan segera dievakuasi oleh petugas bersama warga ke Puskesmas Putih Doh. Namun sayangnya, nyawanya tak tertolong,” ungkapnya.
Pemeriksaan medis menunjukkan tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Namun, satu hal yang mencolok: bekas gigitan pada jari manis kaki kanan. “Kami menduga kuat ini adalah gigitan ular berbisa. Gejalanya sangat khas,” tambah Kapolsek.
Tim Polsek Cukuh Balak bergerak cepat. Mereka menggelar olah TKP, mengumpulkan keterangan saksi, dan memberikan pendampingan kepada keluarga yang tengah dirundung duka.
Pihak keluarga, setelah menerima kejadian ini sebagai musibah, menolak dilakukan autopsi. Jenazah Sanwari telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan secara layak.
Di tengah duka mendalam, Kapolsek Wahyu Fajar menyampaikan imbauan penting kepada warga. “Kami meminta masyarakat lebih waspada saat beraktivitas di kebun atau hutan. Gunakan pelindung, dan segera cari pertolongan medis jika mengalami gigitan mencurigakan.”
Kisah tragis Sanwari menjadi peringatan nyata tentang bahaya yang mengintai di balik semak-semak. Di tempat di mana kehidupan tumbuh subur, maut pun bisa menyelinap diam-diam—hanya dalam satu gigitan.(cd/bd/kd)







Comment