by

27 Pabrik Tapioka Mogok Beli Singkong! Gubernur Mirza: Ada yang Tak Mau Ikut Pemerintah

BANDAR LAMPUNG,cadas.id — Lampung sedang berada di titik panas konflik antara kebijakan dan kepentingan industri. Sebanyak 27 pabrik tapioka di provinsi ini tiba-tiba menghentikan operasional mereka—bukan karena krisis bahan baku atau kerusakan mesin, melainkan karena enggan mengikuti harga singkong baru yang ditetapkan pemerintah.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, baru saja mengeluarkan Instruksi Gubernur Nomor 2 Tahun 2025 yang menetapkan harga singkong sebesar Rp 1.350 per kilogram dengan potongan 30 persen, tanpa memperhitungkan kadar aci. Instruksi ini berlaku mulai 5 Mei 2025, sebelum adanya keputusan lebih lanjut dari pemerintah pusat soal larangan dan pembatasan (lartas).

Namun, alih-alih disambut sebagai langkah penyelamatan harga petani, kebijakan ini justru memicu gelombang protes diam-diam dari kalangan industri. Puluhan pabrik tapioka memilih menghentikan pembelian singkong, membuat petani resah dan kebingungan ke mana harus menjual hasil panennya.

Gubernur Mirza, dengan nada tegas namun tenang, menjelaskan bahwa sikap perusahaan-perusahaan itu kini terbagi dua.

Ada yang siap ikut pemerintah, tapi minta waktu untuk menyesuaikan. Ada juga yang jelas-jelas tidak mau ikut. Udah itu aja, dua klasifikasi,” ujar Mirza kepada awak media di lobby Kantor Gubernur, Selasa (6/5/2025).

Mirza tak menampik bahwa kondisi ini membuat distribusi singkong terganggu. Namun ia tetap meminta para petani untuk menjual hasil panennya ke perusahaan yang mau patuh pada harga resmi pemerintah.

Selama masih ada yang mau beli dengan harga sesuai aturan, jual ke mereka. Pemerintah sudah beri jalan, tinggal siapa yang mau ikut,” katanya dengan nada menantang.

Situasi ini kini menjadi ujian bagi keberpihakan industri terhadap kesejahteraan petani. Apakah industri akan tetap menutup pintu hanya demi mempertahankan margin keuntungan? Atau akhirnya memilih tunduk pada kebijakan yang dibuat demi stabilitas ekonomi rakyat?

Satu hal yang pasti, Lampung kini berada di persimpangan jalan antara keberanian politik dan kalkulasi bisnis yang rumit. Dan di tengahnya, nasib ribuan petani singkong sedang dipertaruhkan.(bs/cd/ml/w)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *