Di tengah rutinitas yang biasa, musibah besar datang tak terduga. Saksi mata, Rusdi Amin (55), menggambarkan detik-detik panik sang ibu saat menyadari putranya tak lagi terlihat di teras.
“Ibunya sempat mencari ke kandang kambing, ke sekeliling rumah. Tapi nihil. Saat kembali ke depan, dia melihat tubuh kecil itu sudah mengambang di kolam,” tutur Rusdi dengan nada getir.
Suci, sang ibu, sontak berteriak histeris. Tanpa ragu ia menceburkan diri ke kolam, meraih anaknya, dan membawanya ke teras rumah. Warga yang mendengar jeritan segera berdatangan, membantu memberikan pertolongan pertama. Namun, takdir berkata lain. Saat dilarikan ke klinik terdekat, sang bocah mungil dinyatakan telah meninggal dunia.
Tangis keluarga pecah. Jenazah Nurrohman kemudian dibawa ke kampung halaman orang tuanya di Kalirejo, Lampung Tengah, dan dimakamkan malam harinya sekitar pukul 21.00 WIB.
Kepala Kampung Bumi Dipasena Agung, Agustiono, turut menyampaikan duka cita mendalam atas tragedi ini.
“Kami semua berduka. Ini menjadi pengingat keras bagi kita, betapa pentingnya pengawasan anak-anak, terutama di lingkungan berisiko seperti tambak,” ungkapnya lirih.
Peristiwa ini mengguncang perasaan warga sekitar. Kolam tambak yang selama ini menjadi sumber penghidupan, mendadak berubah menjadi saksi bisu kehilangan yang mendalam.
Redaksi mengimbau kepada seluruh orang tua: jangan pernah lengah. Pastikan pagar rumah tertutup rapat, tambahkan pengaman di area rawan, dan jangan biarkan anak bermain sendiri tanpa pengawasan. Satu detik kelengahan, bisa merenggut nyawa.







Comment