Luka Fisik dan Pengakuan Mengguncang
Dalam keterangannya, Wirna mengungkapkan bahwa setibanya di rumah usai kegiatan Diksar, Pratama sempat tak sadarkan diri dan menunjukkan luka fisik pada bagian tangan. Lebih mencengangkan lagi, Pratama mengaku mengalami kekerasan fisik, mulai dari ditendang di bagian perut, diinjak-injak, hingga kuku jari kaki terlepas.
“Anak saya sempat bilang, perutnya ditendang, diinjak-injak. Bahkan dia juga bilang sempat diancam akan dibunuh,” ujar Wirna, menahan tangis.
Ketika hendak dibawa ke rumah sakit, Pratama menolak dengan ketakutan, diduga karena trauma mendalam atas apa yang dialaminya.
Riwayat Medis yang Mengarah pada Dugaan Kekerasan
Wirna juga mengungkap bahwa pada Maret 2025, Pratama sempat dirawat enam hari di Rumah Sakit Bintang Amin akibat gejala seperti kram tangan, mual, dan berjalan pincang. Pemeriksaan dokter spesialis saraf menunjukkan gangguan pada saraf otak.
Bulan berikutnya, April 2025, Pratama menjalani operasi di RSUD Abdul Moeloek karena ditemukan gumpalan darah di otak dan gangguan aliran cairan otak.
Meski ada riwayat medis, Wirna dengan tegas membantah bahwa anaknya meninggal karena penyakit bawaan.
“Anak saya sehat sebelum ikut Diksar. Kalau memang sakit dari awal, tidak mungkin dia ikut kegiatan lapangan seperti itu,” tegasnya.







Comment