by

Air Mata di Gunung Agung: Bupati dan Dandim Peluk Duka Keluarga Korban Penusukan

Di depan keluarga yang masih terpukul, para pejabat ini menundukkan kepala. Mereka tidak banyak bicara—karena kadang, empati yang tulus tidak butuh kata-kata. Tangan mereka menggenggam tangan ibu korban yang gemetar. Tali asih pun diserahkan, tak hanya sebagai bentuk bantuan, tetapi sebagai simbol bahwa masyarakat tidak sendiri.

“Kami turut berduka cita. Semoga keluarga diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi musibah ini,” ujar Kasi Humas Polres Iptu Tohid, mewakili suasana haru malam itu.

Kehadiran tiga pilar daerah ini menjadi bukti bahwa hukum dan kemanusiaan bisa berjalan berdampingan. Mereka hadir tak hanya sebagai aparat, tetapi sebagai manusia yang merasakan luka yang sama.

Di luar rumah, aparat gabungan dari Polres Lampung Tengah, Brimob Polda Lampung, dan Kodim 0411/KM masih bersiaga. Bukan karena situasi genting, tapi karena negara memilih berjaga—agar ketertiban tetap berdiri tegak di atas tragedi.

Kami minta masyarakat tidak terprovokasi. Proses hukum sedang berjalan, dan kami pastikan tidak ada yang ditutupi,” tegas Iptu Tohid.

Di antara cahaya temaram lampu rumah duka, dan isak tangis yang belum reda, kunjungan malam itu menjadi penanda: bahwa di tengah derita, perhatian dan pelukan dari para pemimpin bisa menjadi cahaya kecil bagi mereka yang ditinggalkan.(cd/bs/ml)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *