by

Kericuhan Memuncak di Depan Kantor Gubernur Lampung,10 Polisi Terluka

-Daerah-519 Views

LAMPUNG,Cadas.id – Hari itu, Senin (5/5/2025), halaman Kantor Gubernur Lampung berubah menjadi medan pertempuran. Aksi unjuk rasa besar-besaran yang digalang Aliansi Masyarakat Peduli Petani Singkong Indonesia mendadak berubah menjadi mimpi buruk ketika suara-suara kecewa rakyat tak kunjung mendapat jawaban.

Ratusan massa dari lima kabupaten dan organisasi kepemudaan Cipayung Plus awalnya berdiri tegak, membawa harapan dan tuntutan. Namun, harapan itu luruh seiring gagalnya audiensi antara perwakilan massa dan pejabat Pemprov Lampung.

Kekecewaan berubah menjadi kemarahan. Massa mulai merangsek, memaksa menerobos barikade menuju jantung pemerintahan. Aparat kepolisian berupaya menahan, tapi bentrokan tak terhindarkan. Batu, kayu, dan benda tumpul melayang seperti hujan amarah.

Suara dentuman keras terdengar. Di balik barikade, teriakan panik dan tangis ketakutan memecah suasana. Asap mengepul. Mata-mata yang penuh harap kini berubah jadi sorot kemarahan yang membara.

Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun, mengonfirmasi bahwa sepuluh anggota polisi menjadi korban dalam bentrokan itu.

Sebanyak 10 anggota kami luka-luka akibat lemparan batu dan benda keras. Mereka berjuang menahan situasi agar tak semakin liar,” ujar Yuyun.

Yang paling parah, Bripka Yuli Setiawan, anggota Provos Polsek Teluk Betung Selatan, mengalami luka robek di kepala akibat hantaman benda tumpul. Ia langsung dilarikan ke RS Bhayangkara untuk penanganan intensif.

Delapan personel Dit Samapta Polda Lampung lainnya juga harus dirawat setelah terkena lemparan batu—di dagu, pipi, leher, dan tangan. Tim medis yang sudah disiagakan bekerja di bawah tekanan, menyelamatkan mereka satu per satu di tengah kekacauan.

Bripka Ali Hanafi dari Sat Intelkam Polresta Bandar Lampung terkena lemparan rambu lalu lintas, sementara Briptu Rio Candra dari Brimobda Lampung terluka di dagu kanan.

“Kami menghormati hak menyampaikan pendapat. Tapi bila aksi berubah menjadi anarkis dan melukai petugas, itu bukan lagi demokrasi, tapi kejahatan,” tegas Kombes Yuyun.

Ia menyatakan bahwa pelaku kekerasan telah diidentifikasi dan akan segera diproses hukum.

Negara tidak boleh tunduk pada kekerasan. Ini akan kami tindak tegas,” pungkasnya.

Menjelang sore, aparat akhirnya berhasil mengendalikan situasi. Massa perlahan dibubarkan. Namun bekas kericuhan itu—darah di seragam, kaca pecah, dan jejak-jejak sepatu di tanah yang basah oleh keringat dan amarah—menjadi saksi bisu bahwa jeritan rakyat tak selamanya terdengar dengan damai.(cd/bs)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *