Saat itu, Sabtu siang yang terik, sang ayah baru saja memintanya mengunci motor yang terparkir di depan rumah. Tanpa curiga, Ari naik ke atas motor, namun detik berikutnya, dua orang asing datang dan mengajaknya bicara—yang ternyata hanyalah pengalihan perhatian sebelum motor itu direbut secara paksa.
“Saya nyuruh anak saya ngunci motor, dia naik, lalu tiba-tiba dua orang datang, nanya-nanya… lalu langsung ambil motor,” tutur Eka, Minggu (8/6/2025), dengan nada masih dipenuhi amarah dan cemas.
Ari sempat berpegangan. Tapi salah satu pelaku memaksa menarik gas sambil menghentakkan motor hingga ‘jumping’—dan tubuh Ari terhempas. Bocah itu tak menyerah. Ia berlari mengejar dan terseret sekitar 10 hingga 15 meter.
Akibat kejadian itu, Ari mengalami luka cukup parah di tangan dan kakinya. Luka fisik yang mungkin sembuh, tapi luka batin karena kekerasan di siang bolong itu akan sulit hilang dari ingatannya.
“Sudah saya laporkan ke Polsek. Luka anak saya di tangan dan kaki karena terseret motor,” tegas Eka, yang berharap pelaku segera tertangkap.
Kini, satu pertanyaan menggantung di langit Bandarlampung: Apakah anak-anak masih aman bahkan di depan rumahnya sendiri?(**hp/cd)







Comment